thefishingblitz.com – Gelombang demonstrasi di Iran yang berlangsung selama 17 hari terakhir telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, menurut laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA). Tindakan keras aparat keamanan yang terjadi di seluruh negeri dalam upaya meredam protes ini menyebabkan angka kematian yang meliputi 1.850 demonstran, 135 personel pemerintah, serta sejumlah warga sipil dan anak-anak.
Protes di Iran, yang awalnya dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang dan lonjakan biaya hidup, telah meluas ke 180 kota di 31 provinsi. Kini, tuntutan demonstran berkembang menjadi desakan terhadap perubahan politik yang paling serius bagi kepemimpinan ulama sejak Revolusi Islam pada tahun 1979. Di Teheran, situasi dilaporkan mencekam dengan banyak video memperlihatkan kerumunan orang mencari jenazah kerabat mereka di Pusat Forensik Kahrizak.
Seorang aktivis mengungkapkan kesedihannya ketika melihat banyaknya kantong jenazah, sementara profesor Shahram Kordasti menggambarkan kondisi rumah sakit yang kewalahan dengan perbandingan seperti zona perang. Ia melaporkan kekurangan pasokan medis dan darah di rumah sakit-rumah sakit di Teheran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan dukungan kepada para demonstran melalui unggahan di media sosialnya, menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Gedung Putih dilaporkan mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk serangan militer. Dalam konteks ini, pemerintah Iran menegaskan kesiapan untuk diplomasi namun juga untuk bertindak tegas terhadap protes yang mereka anggap disusupi oleh “kelompok teroris”.
Tekanan internasional meningkat, dengan Kepala Hak Asasi Manusia PBB mendesak Iran menghentikan kekerasan dan mencela penggunaan istilah “teroris” untuk melegitimasi penindasan. Pihak yudisial Iran tetap pada sikap keras, dengan beberapa demonstran dijatuhi hukuman mati atas tuduhan “permusuhan terhadap Tuhan”.