thefishingblitz.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penguatan signifikan pada pagi hari Kamis, mencatat kenaikan sebesar 39,71 poin atau 0,44 persen, berada di posisi 9.072,29. Meskipun pelaku pasar sedang menghadapi kekhawatiran atas potensi ancaman terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat, The Fed, stabilitas pasar saham Indonesia terlihat menjanjikan.
Menurut Tim Riset dari Lotus Andalan Sekuritas, reli ini tidak sekadar rebound teknikal, tetapi merupakan tanda pergeseran dalam rezim investasi menuju fase supercycle yang berpotensi mendukung pasar saham Indonesia hingga tahun 2026. Para investor kini memperhatikan perkembangan kebijakan di AS, terutama setelah mantan Presiden Donald Trump menyerukan reformasi suku bunga kartu kredit dan mengecam Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dapat menambah ketidakpastian dalam kebijakan moneter.
Selain itu, data inflasi, yang tercermin dari Producer Price Index (PPI) AS, menunjukkan adanya tekanan harga, meningkatkan risiko bahwa The Fed mungkin perlu menahan atau bahkan menaikkan suku bunga di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, skenario yang dihindari oleh investor. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta isu terkait Greenland juga menambah lapisan ketidakpastian yang membuat investor cenderung berkurang eksposur risiko.
Di sisi domestik, pasar saham Indonesia tampaknya menjadi tujuan utama di tengah peningkatan harga energi dan logam global. Hasil yang positif ini sejalan dengan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang menunjukkan adanya rotasi dari obligasi ke saham, indikasi awal dari bull market berbasis komoditas.
Dengan kondisi ini, pasar saham Indonesia diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama bagi investor lokal dan internasional.