thefishingblitz.com – Perdagangan internasional kini semakin bergeser dari dominasi mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Dalam periode 2024 hingga 2025, Rusia dan Kirgizstan mencatatkan nilai perdagangan mencapai lebih dari USD 5,4 miliar atau sekitar Rp 86 triliun, dengan sebagian besar transaksi dilakukan menggunakan mata uang lokal masing-masing. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pola perdagangan global, di mana semakin banyak negara berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Rusia dan Kirgizstan telah menerapkan berbagai mekanisme baru dalam transaksi lintas batas, menjadikan rubel dan som sebagai alat pembayaran utama. Langkah ini dianggap strategis, terutama dalam konteks situasi geopolitik dan sanksi ekonomi yang telah berdampak pada posisi Rusia dalam perdagangan internasional. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa negara-negara seperti Rusia tengah berupaya mencari alternatif baru untuk penyelesaian transaksi, dan mengungkapkan bahwa 97% perdagangan antara Rusia dan Kirgizstan kini berlangsung dengan mata uang lokal.
Perubahan ini mencerminkan tidak hanya perubahan dalam praktik bisnis kedua negara, tetapi juga tren global yang lebih luas, di mana negara-negara mulai mencari cara untuk menghindari penggunaan dolar AS dalam perdagangan mereka. Dengan begitu, inisiatif ini dapat memperkuat stabilitas ekonomi di kawasan mereka dan mengurangi dampak dari ketegangan politik yang sering kali terkait dengan penggunaan dolar AS. Seiring berlanjutnya perkembangan ini, perhatian dunia akan terfokus pada langkah-langkah selanjutnya dari negara-negara lain dalam merespons perubahan dinamika ini di pasar internasional.